Situmorang, Andi Handoko (2025) PERUBAHAN SIFAT FISIK KIMIA MINYAK GORENG SAWIT DAN MINYAK KELAPA PADA PENGGORENGAN TEMPE. Skripsi thesis, Institut Pertanian Stiper Yogyakarta.
Lembar Pengesahan_19994.pdf
Download (154kB)
BAB 1_19994.pdf
Download (89kB)
BAB II_19994.pdf
Restricted to Registered users only
Download (208kB)
BAB III_19994.pdf
Restricted to Registered users only
Download (51kB)
BAB IV_19994.pdf
Restricted to Registered users only
Download (475kB)
BAB V_19994.pdf
Download (3kB)
DAFTAR PUSTAKA SD LAMPIRAN_19994.pdf
Download (654kB)
JURNAL_TURNITIN_19994.pdf
Download (418kB)
Pernyataan Originalitas_19994.pdf
Download (168kB)
formulir publikasi_19994.pdf
Download (202kB)
TURNITIN SKRIPSI_19994.pdf
Restricted to Registered users only
Download (993kB)
SKRIPSI FULLTEKS_19994.pdf
Restricted to Registered users only
Download (913kB)
Cover sd abstrak_ 19994.pdf
Download (265kB)
Abstract
Minyak goreng merupakan wahana bagi berbagai vitamin yang larut dalam minyak, yaitu vitamin A, D, E dan. Minyak goreng yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah minyak nabati seperti minyak kelapa dan minyak sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisik dan kimia minyak goreng sawit dan minyak goreng kelapa setelah digunakan untuk menggoreng berulang kali. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi. Adapun petak utama adalah jenis minyak goreng yang terdiri dari M1 = Minyak sawit 1liter untuk menggoreng tempe 500 gram, M2 = Minyak goreng sawit 500 ml dan minyak kelapa 500 ml untuk menggoreng tempe 500 gram, dan M3 = Minyak kelapa 1liter untuk menggoreng tempe 500 gram. Petak bagian adalah frekuensi penggorengan minyak goreng, terdiri atas 3 taraf, yaitu: F1 = 2 kali, F2 = 4 kali, F3 = 6 kali. Hasil penelitian ini menunjukka jenis minyak (M) berpengaruh terhadap kadar ALB, protein, viskositas, bilangan peroksida, dan nilai iod. Namun, jenis minyak tidak mempengaruhi kadar air, warna, rasa, tekstur, dan aroma. Faktor frekuensi penggorengan (F) berpengaruh terhadap kadar air, ALB, protein, bilangan peroksida, nilai iod, warna, tekstur, dan aroma tempe. Namun, frekuensi penggorengan tidak berpengaruh terhadap viskositas dan rasa tempe.. Berdasarkan uji organoleptik, perlakuan terbaik adalah M2F2, dengan hasil 5,69 suka, ALB sebesar 0,30%, kadar air sebesar 4%, bilangan peroksida 4,74, kadar protein 36,84%, viskositas 68,85 Pa·s, dan Iod Value sebesar 47.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information: | 19994; tidak publish jurnal (terlambat upload) |
| Uncontrolled Keywords: | Minyak Sawit, Minyak Kelapa, Tempe |
| Subjects: | Fakultas Teknologi Pertanian > Program Studi Teknologi Hasil Pertanian |
| Divisions: | INSTIPER > Fakultas Teknologi Pertanian > Program Studi Teknologi Hasil Pertanian |
| Depositing User: | Andi Handoko Situmorang |
| Date Deposited: | 25 Mar 2025 02:27 |
| Last Modified: | 25 Mar 2025 02:27 |
| URI: | https://eprints.instiperjogja.ac.id/id/eprint/3317 |
